dunia pun mengenal Anda

dunia pun mengenal Anda

Portofolio kami

Pengunjung Kami

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini149
mod_vvisit_counterKemarin237
mod_vvisit_counterMinggu ini673
mod_vvisit_counterMinggu lalu1640
mod_vvisit_counterBulan ini1614
mod_vvisit_counterBulan lalu7917
mod_vvisit_counterSemua55824

Saat ini (periode 20 menit): 11
IP Anda: 38.107.191.86
,
2010-09-07 14:28

Saling Silang

Kotak Tempik

Latest Message: 2 weeks, 4 days ago
  • admin: Selamat menunaikan ibadah puasa
  • admin: Anda bisa memanfaatkan fasilitas ini untuk berbagi informasi atau sekedar chatting dengan pengunjung yang lain
  • admin: selamat datang di dapur situs



Etalase

dapur situs

dwi mandiri

dapur situs

paket promosi
Tampilkan iklan/promosi Anda di sini, dapat berupa teks atau banner.


PCM-AV
PC Media AntiVirus is the best Indonesian anti virus

Joomla!
Joomla! The most popular and widely used Open Source CMS Project in the world.

openoffice

ubuntu

Free Hosting





28

Jul

2010

Ketika Musim Hajatan Tiba PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh {kliping}   

Ada cukup banyak hal yang tidak saya mengerti tentang perilaku warga tempat saya tinggal di Kampung Bukatanah, Desa Langensari, di Kawasan Bandung Utara, semenjak saya tinggal di sana lebih dari 3 tahun lalu. Salah satunya adalah mengenai hajatan. Hajatan, dalam pengertian saya selama ini, adalah peristiwa yang menyenangkan, dari sisi pengundang dan yang diundang. Tetapi seringkali saya amati, ada sesuatu yang tidak biasa di kampung kami dan sekitarnya, seperti yang terjadi kemarin.

Sepulang mengantar-jemput anak saya sekolah, saya melewati rumah Mang Yaya, yg sejak kemarin ini sampai Rabu besok, mengadakan hajatan sunatan cucunya. Ya, untuk sebuah sunatan, mulai dari persiapan masak-memasak sampai dengan acara selesai memakan waktu 3-4 hari. Dan ‘pakem’ ini juga diikuti keluarga Mang Yaya, yg merupakan salah satu keluarga miskin di kampung kami.
Setelah mengantar anak sampai di rumah, saya berjalan kaki menghampiri rumah Mang Yaya, ingin menanyakan apakah mungkin ada yang bisa ikut saya bantu, misalnya mengantar belanja bahan makanan. Ternyata saya terlambat, semua bahan makanan sudah dibeli Senin subuh.

Saya menghampiri kelompok ibu2 yang sedang memasak, dan menyapa: “Wah, enak sekali kerja bareng, bisa sambil ngegosip. Gosip apa nih yang lagi rame?” Ibu2 pun tertawa. Di pojok yang lain, kelompok bapak2 mempersiapkan daging sapi untuk dijadikan sate. Saya kira plus ngegosip juga. Saya menikmati suasana itu, bekerja bersama untuk hajatan bersama. Saya kira di banyak kampung di Indonesia, masih bisa ditemui hal seperti ini.

Tiba-tiba Mang Yaya setengah berbisik mengajak saya berbicara, dan ia menarik saya ke kamar Pipin, anaknya. Saya ikuti saja. Setengah berbisik Mang Yaya cerita kalau dia perlu uang untuk hajatan itu. Seperti biasa, saya diam mendengarkan. Mang Yaya bilang, kalau seseorang menjanjikan pinjaman 10 juta untuk acara itu, namun kenyataannya hanya 5 juta yang cair. Padahal semua sudah diatur untuk hajatan senilai 10 juta. Halah, pikir saya, anggaran hajatan sunatan sebuah keluarga miskin besarnya 10 juta? (Belakangan saya perkirakan jumlah itu bisa membengkak jadi 15 juta) Kekurangan Mang Yaya katanya tidak 5 juta, karena di sekitar kampung kami sudah ada beberapa orang yg melihat peluang bisnis hajatan yang memang kerap dilakukan. Untuk idangan (bingkisan dalam plastik berupa 4 buah Sarimi, telor, dan minyak goreng, untuk dibawa pulang para tamu) sebanyak 400 kantong, Mang Yaya bisa bayar belakangan kepada orang itu. Tentu dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar. Saya hitung sekitar 10-15% lebih tinggi. Pemberi pinjaman mau melakukan itu, karena akan dibayarkan dari ‘angpao’ para tamu. Saya tidak mengomentari cerita Mang Yaya lebih jauh, hanya tidak masuk di akal saya, hajatan sunatan sebuah keluarga miskin, besarnya lebih dari 10 juta, karena ada 400 undangan. Saya pun pamit kembali ke rumah untuk makan siang.

Lepas makan siang, saya harus ke bengkel di daerah Cikidang untuk memperbaiki mobil tua saya. Di perjalanan saya melihat 3 orang ibu2 dan anaknya berpakaian rapih, berjalan searah dengan tujuan saya. Saya menepi dan menawarkan tumpangan. Mereka pun naik. Saya tanya mau ke mana? Hajatan. Lho, ada lagi hajatan selain di tempat Mang Yaya? Iya, Sep (hehehe kerap nama saya diubah jadi Asep oleh banyak orang). Minggu ini ada tiga, jawab ibu yang satunya. Pusiiiiing.

Kenapa pusing? tanya saya. Kan enak, makan sate (Tiap hajatan yg saya kunjungi, makanannya nyaris sama. Prasmanan. Dan sate sebagai lauk utama). Bukan makan sate, Sep, tapi beli sate, seloroh salah satu dari mereka. Halah, ini keanehan yg lain lagi. Memang, hal ini sudah sering dengar. Orang2 yang mengeluh ketika musim hajatan tiba. Hajatan yg selazimnya menjadi hal yg menyenangkan, di satu sisi ternyata menjadi keluhan sebagian (besar?) orang. Karena untuk datang ke hajatan, undangan ‘wajib’ membawa ‘angpao’ yg kelaziman nilainya sudah ‘baku’. Saya tahu ini dari Bi Aah, juru masak keluarga kami. Kalau keluarga dekat besarnya 100 ribu. Kalau yang lainnya biasanya 50 puluh ribu. Bawa lebih kecil dari itu akan diomongin. Dan sepengetahuan saya, sangat banyak tetangga kami yg uangnya hanya ada untuk hari itu. Uang untuk besok, gimana besok saja. Jadi bisa diduga, sangat banyak orang yg datang ke hajatan itu dengan ‘angpao’ hasil pinjaman. Kalau ada 3 hajatan dalam seminggu, tentu kepusingan warga semakin besar. Menurut saya, mungkin ini salah satu sebab warga kampung kami tidak bisa menyediakan uang untuk keperluan pendidikan anak dan cucu mereka. Sampai sekarang, hampir semua warga kampung kami hanyalah lulusan SD. Padahal jarak tempat kami ke ITB (baca: ‘Pusat Peradaban’ itu) hanya 7,5 km.

Saya bukan sosiolog dan saya tidak ingin menilai bahwa fenomena hajatan di kampung kami (besar kemungkinan juga terjadi di kampung2 sekitar kami) adalah sebuah kesalahan. Tapi ada hal2 yang belum bisa masuk di akal saya, terutama mengenai besarnya biaya hajatan sunatan untuk sebuah keluarga miskin dan pinjam uang untuk ‘angpao’ hajatan. Dan kalau saja tidak kerap terdengar keluhan tentang ini, mungkin saya tidak merasa perlu membuat tulisan ini.

horas!
Erwin

Nb.
Tulisan di atas dibuat awal 2009, saat situasi keuangan dunia sedang acakadut. Beberapa hari setelah acara berlangsung, saya dengar jumlah “angpao” yang terkumpul hanya sekitar 6 juta. Biaya hajatan sekitar 11 juta. Hajatan itu membuat keluarga miskin itu menjadi lebih miskin sekitar 5 juta rupiah.

sumber: mailing-list iai-architect 27 Juli 2010 | penulis Erwinthon P. Napitupulu

 
 
Simplweb - Joomla 1.5 Website Hosts