Jumat, 18 Juni 2010 | 13:23 WIB | Yulvianus Harjono Mayoritas kota-kota besar dunia, sebut saja Roma, Berlin, London, Athena, Beijing, dan Jakarta, tumbuh-berkembang setua peradaban negara itu sendiri. Nuansa sejarah dan romantisme begitu kental ketika kita menginjakkan kaki di sana.
Namun, justru itulah salah satu kekurangannya. Kota-kota besar di dunia, atas nama sejarah, terus saja dibangun dan dikembangkan tanpa henti, kadang hingga menembus batas. Kota sekaligus pusat ekonomi, pemerintahan, dan permukiman penduduk. Semua tumplak-blek. Akhirnya, sebagian tumbuh sebagai kota metropolis yang penuh sesak, diliputi kemacetan dan persoalan ekologis. Kota Jakarta contoh konkretnya. Planolog hebat sekali pun sulit membenahi karut-marut kronis di ibu kota republik ini. Kondisi itu bertolak belakang bila kita menilik negara tetangga, Malaysia. Jauh-jauh hari, dari tahun 1995-an, Pemerintah Federal Malaysia menciptakan dua buah kota baru, Putrajaya dan Cyberjaya, karena menyadari Kuala Lumpur tak lagi sanggup memikul semua beban pembangunan sebagai ibu kota negara. Putrajaya kini pusat administrasi pemerintahan yang baru. Sementara Cyberjaya adalah kota yang digadang menjadi Silicon Valley—tempat di mana menjadi pusat-pusat keunggulan (center of excellence), seperti universitas dan industri teknologi informasi. Kedua kota kembar itu masuk dalam konsep besar: Multimedia Super Coridor (MSC) yang digagas Mahathir Muhammad, Perdana Menteri Malaysia ketika itu. Meski menuai banyak kritik, ditambah krisis ekonomi yang tengah melanda, Pemerintah Federal Malaysia ketika itu bersikeras membangun kedua kota termodern tersebut dengan anggaran 30 miliar ringgit (Rp 90 triliun). Namun, langkah berani memindahkan pusat pemerintahan itu berbuah manis. Ketika Kompas berkunjung ke Putrajaya akhir Mei lalu, kota itu menjelma menjadi ikon dan primadona baru industri pariwisata di Malaysia. Tak sekadar pusat administrasi pemerintahan. Kota yang terletak 25 kilometer luar Kuala Lumpur itu memperlihatkan kombinasi sempurna antara perencanaan matang, arsitektur, dan desain yang kuat, infrastruktur telekomunikasi yang canggih, dan yang tak kalah penting, berwawasan lingkungan. Letaknya pun strategis, berada di antara Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur Internasional Airport (KLIA). Keluar dari tol arah Kuala Lumpur, memasuki wilayah inti di Putrajaya, kita disambut jembatan mencolok mata, Seri Wawasan. Jembatan sepanjang 240 meter itu memiliki desain unik berupa juluran kabel-kabel penghubung serta tiang utama menyerupai kapal layar. Jembatan ikonik itu menghubungkan wilayah permukiman dengan pulau inti, yaitu kawasan perkantoran Pemerintahan Federal Malaysia. Danau buatan Di bawah dan sekitar jembatan terdapat danau besar membelah kawasan daratan di Putrajaya. Luas danau itu 650 hektar. Selain sebagai pengontrol sekaligus penjaga stabilitas suhu di lingkungan sekitarnya, danau buatan itu juga difungsikan untuk rekreasi memancing dan berperahu. Kegiatan berperahu di danau bahkan telah menjadi salah satu obyek wisata primadona di Putrajaya. Berkeliling danau ditemani hidangan makan malam di atas kapal pesiar, sambil menikmati pemandangan temaram dan pantulan dari lampu-lampu jembatan, gedung-gedung berarsitektur indah, atau istana Raja Selangor, bisa menjadi kenangan fantastis pengunjung. Biaya per penumpang pesiar kapasitas 76 penumpang 30-50 ringgit (Rp 90.000-Rp 150.000) per orang, sedangkan kapal dondang (dayung) isi enam penumpang Rp 60.000-Rp 120.000. ”Berkeliling dengan perahu (pesiar) atau dondang adalah salah satu obyek favorit wisatawan yang datang ke Putrajaya,” ujar Nakeswara Marimithi (32), pemandu tur setempat. Putrajaya dibangun dengan desain ramah lingkungan. Di sekeliling kota ditemui taman- taman botani. Hampir setiap gedung punya taman botani masing-masing. Oleh karena itu, Putrajaya kerap dijuluki ”kota taman”. ”Sebanyak 37 persen luas areal di sini kawasan hijau. Terdiri atas taman-taman botani dan taman-taman cerdas,” ujar warga keturunan India itu dengan bahasa Inggris fasih. Potensi polusi di kedua kota itu pun ditekan ke titik terendah. Menginjak ke bagian inti kota, kami disambut deretan bangunan pemerintahan berlanggam arsitektur beragam dan menawan. Bangunan berbagai kementerian dan departemen pemerintahan Malaysia berjajar rapi di kiri dan kanan jalan. Hingga saat ini, mayoritas bangunan sudah dihuni. Namun, pembangunan gedung-gedung baru pencakar langit masih terus berjalan. Di ujung jalan berdiri megah Gedung Perdana Menteri Malaysia berarsitektur khas campuran Melayu, Eropa, dan Islam, yang digunakan mulai tahun 1999. Arus lalu lintas lengang, kalaupun padat, itu berlangsung tertib. Pembangunan Putrajaya betul-betul terencana. Pada rencana induknya, kota dibagi dalam dua bagian besar: wilayah inti dan pendukung. Wilayah inti dibagi dalam lima koridor, yaitu areal pemerintahan, komersial, budaya, pembangunan campuran, serta olahraga dan rekreasi. Teknologi canggih menjadi nadi aktivitas di Putrajaya. Selain dilengkapi akses komunikasi berpita lebar dan jaringan fiber optik termutakhir berkecepatan 2,5-10 gigabit per detik, digitalisasi juga akrab di sana. Komunikasi antardepartemen atau kementerian dilakukan lewat fasilitas kanal-kanal digital yang saling terhubung dua arah satu sama lain. Tanpa pagar Sementara itu, permukiman berada di luar area inti. Jika dilihat dari Gedung Putrajaya International Convention (PICC) di puncak bukit, kawasan itu di luar danau. Menurut Nakeswara, rumah- rumah di Putrajaya ataupun di Cyberjaya dilarang berpagar atau gerbang. Tak ada penjelasan pasti mengenai hal itu. Katanya, bertujuan menghilangkan segregasi sosial dan meningkatkan solidaritas penghuninya. Kini, jumlah rumah dan apartemen di kawasan Putrajaya mencapai 67.000 unit. Yang tak kalah menarik, areal seluas 4.581 hektar yang dibangun untuk Kota Putrajaya dahulu bekas perkebunan kelapa sawit dan penambangan timah yang tak lagi produktif. Berkat visi cerdas, kawasan itu menjelma menjadi salah satu kota termodern di Asia, sekaligus magnet kunjungan wisatawan. Lalu, bagaimana dengan Kuala Lumpur? Dengan keberadaan pusat pembangunan baru di Putrajaya dan Cyberjaya, tak lantas membuat Kuala Lumpur tak terurus. Di sana, visi pembangunan berkelanjutan masih kental. Kawasan-kawasan pedestrian terus ditata apik, jalur-jalur hijau dipertahankan dan diperbanyak. Kini, kota itu terkesan lebih ramah dan nyaman bagi turis serta pejalan kaki dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara, termasuk Jakarta. Contoh kecil, di jantung kota Kuala Lumpur, hingga saat ini, masih dipertahankan hutan kota seluas 9,7 hektar, yakni Bukit Nanas. Jangan heran, hutan kota itu merupakan hutan perawan dengan banyak pepohonan lebat dan menjulang. Hutan di tengah kota Bukit Nanas menjadi habitat jelutung (Dyera Spp) dan merbau (Intsia bijuga) berusia ratusan tahun plus aneka kupu-kupu, tupai, burung bulbul (Pycnonotus jocosus), dan sejumlah spesies monyet, penghuni asli hutan kota itu. Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru kota itu bagai oase di antara keangkuhan gedung-gedung beton pencakar langit, keramaian lalu lintas, dan lintasan monorel. Kontras, tetapi itu menakjubkan! Dari sana pula tampak jelas Menara Kembar Petronas, simbol kemakmuran Malaysia. Jason Wang (34), warga Malaysia, dengan bangga berujar, ”Pembangunan di Malaysia berjalan begitu terencana. Pemerintah pun menaruh perhatian begitu besar terhadap persoalan lingkungan hidup. Sebanyak 60 persen wilayah daratan kami masih berupa hutan. Apabila 1 hektar hutan dirusak, harus diganti 4 hektar yang baru.” Menakjubkan. Negara tetangga Malaysia telah mempraktikkan pelajaran tak ternilai tentang pentingnya keselarasan pembangunan dan pelestarian alam. Itulah salah satu aspek pembangunan berkelanjutan. Hal yang sesungguhnya tak perlu ”cerdas” untuk mampu memaknainya. Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/18/13233663/dua.kota.cerdas.di.malaysia
|