Suara Bi Raspi yang tinggi melengking diiringi suara kendang, ketuk, dan gong menjadikan suasana Sanggar Senam Kartini lain dari biasanya. Tampak Bi Raspi menjadi pusat, dikelilingi para penari yang memakai penutup sarung.
Siang itu, Selasa (19/1), langit biru, cuaca cerah, pukul 12.00, rombongan yang dipimpin sejarawan Nina Lubis sampai di Sanggar Senam Kartini, Jalan HOS Cokroaminoto Nomor 20, Ciamis, untuk menyaksikan ronggeng gunung Ciulu pimpinan Bi Raspi. Studio Titikdua, Ciamis, adalah fasilitatornya.
Ronggeng gunung merupakan pertunjukan yang menampilkan seorang ronggeng. Instrumennya sangat sederhana, hanya sebuah kendang, tiga ketuk, dan sebuah gong. Lagu-lagu yang dibawakan ronggengnya pun sangat khas. Setiap lagu memiliki ciri tersendiri, berpadu dengan tariannya yang khusus. Satu lagu dianggap satu babak. Gerakan tarinya lebih difokuskan pada kaki. Penari biasanya bergerombol menari membuat lingkaran mengelilingi ronggeng. Pada lagu tertentu mereka menari dengan berkerudung sarung atau iket. Penari masuk dan keluar dari tempat menari, diawali dan diakhiri dengan gong atau anjog.
Pada ronggeng gunung, lagunya lebih berbentuk wawangsalan, sisindiran, atau paparikan. Lagu-lagu tersebut, di antaranya, "Lagu Lulugu", terdiri dari "Kudup Turi", "Ladrang", dan "Sasagaran"; "Lagu Golewang", "Lagu Onday", "Dengdet", "Liring", "Torondol", "Cacar Burung", "Raja Pulang", "Kawung Kulon", serta "Mangonet". Inilah yang membedakan antara ronggeng gunung dan ronggeng kaler (ronggeng amen) atau ronggeng tayub.
Ronggeng kaler (kaler berarti utara) lebih dikenal sebagai ronggeng amen. Bentuk pertunjukannya merupakan pengembangan dari ronggeng gunung. Ronggengnya lebih dari dua orang dan musik pengiringnya adalah seperangkat gamelan lengkap dengan lagu-lagu kliningan. Adapun ronggeng tayub mirip dengan tayuban di wilayah Priangan.
Keberadaan ronggeng gunung tidak bisa dilepaskan dari cerita Dewi Siti Samboja. Menurut cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, terciptanya kesenian ronggeng gunung merupakan wangsit dari Patih Kidang Pananjung kepada Dewi Siti Samboja. Waktu itu Dewi Siti Samboja sedang dirundung malang karena kekasihnya yang bernama Raden Angga Rarang gugur di medan perang.
Untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya, Dewi Siti Samboja menyamar sebagai ronggeng. Penyamaran dilakukan dalam rangka menghindari musuh sekaligus menyusun kekuatan menyerang balik musuh. Itulah sebabnya, tarian pada ronggeng gunung dalam beberapa lagunya memakai penutup sarung atau iket.
Bi Raspi
Masyarakat Jawa Barat yang sudah beberapa kali datang ke acara Nyiar Lumar di Kawali akan sangat kenal dengan sosok Bi Raspi. Sebab, dalam acara Nyiar Lumar itu Bi Raspi selalu menjadi penutup acara. Selain karena sampai hari ini hanya Bi Raspi yang tetap kukuh membawakan ronggeng gunung, yang lain lebih memilih memodifikasi bentuk ronggengnya.
Bi Raspi berasal dari Dusun Ciparakan, Kalipucang. Ia sekarang tinggal di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari. Bi Raspi belajar meronggeng sejak tamat SD, kemudian berguru kepada Maja Kabun dan Mak Icih di Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang. Kini di usianya yang sekitar 50 tahun Bi Raspi tetap eksis membawakan ronggeng gunung. Setiap kali pementasan, Bi Raspi membawa 10 penari yang semuanya laki-laki serta tiga nayaga (seorang penabuh kenong/pengetuk, seorang pengegong, dan seorang lagi sebagai pengendang).
Meskipun hanya mantan, ada pakar ronggeng yang masih mampu menggelar ronggeng gunung seperti halnya di Kecamatan Padaherang, tepatnya di Panyutran. Sebut namanya Pa Sarli, Pemimpin Grup Ronggeng Gunung Sari Gunung Rata Kenanga. Ronggeng gunung pimpinan Pa Sarli berdiri sejak zaman gerombolan DI/TII atau ketika Pa Sarli berusia 15 tahun. Pa Sarli mendapatkan kepercayaan dari orangtua untuk meneruskan seni ronggeng. Banyak sekali ronggeng yang bergabung pada grup Pa Sarli. Bahkan Pa Sarli beserta istrinya, Ibu Carpi, mengajarkan seni ronggeng kepada siapa saja yang mempunyai niat untuk menjadi ronggeng dan penabuh dengan istilah panjak.
Sekitar tahun 1965 kesenian ronggeng gunung sangat digemari masyarakat. Bahkan hampir setiap hari mereka manggung. Hingga tahun 1973 ronggeng Pa Sarli tidak surut dari pesanan hingga luar daerah, yakni Jawa Tengah.
Ronggeng gunung disajikan pada acara-acara keagamaan dan hiburan, seperti ruwatan, hajatan, selamatan, dan syukuran, utamanya pada ruwatan setelah panen.
Ronggeng yang tersohor waktu itu adalah Bi Raswi, kemudian digantikan Bi Pejoh pada grup ronggeng Sari Gunung. Adapun murid yang datang dari desa lain membuat grup sendiri, misalnya Bi Raswi, Bi Saadah, dan Bi Uum.
Untuk menjadi ronggeng di Pa Sarli, calon ronggeng umumnya harus mengikuti aturan wajib yang merupakan pesan dari para leluhur Pa Sarli. Sebelum dilatih menjadi ronggeng, calon ronggeng harus belajar mulai dari merias diri, naik ke panggung, hingga vokal (ngahaleuang). Kemudian, mereka mandi di sumur keramat Gontelang serta harus membawa daun turi dan talas ronggeng.
Cetusan jiwa
Menurut versi ini, konon ceritanya ronggeng terlahir dari sebuah legenda Panyutran, Nyi Ayu putri Dalem Mangku Nagara (karuhun Panyutran) yang ditinggal mati lelaki pujaannya sebelum menikah. Nyi Ayu ini setia menunggui mayat kekasihnya sambil menutup hidungnya dengan daun turi ketika mayat itu mulai berbau.
Sambil menunggui itulah Nyi Ayu menyanyikan (ngahaleuang) syair romantis yang berbentuk wawangsalan, sisindiran, serta paparikan. Hingga terciptalah ronggeng gunung. Lantas Kian Santang, tokoh Islam yang pertama kali datang ke Panyutran, yang berpusat di Suka Lemba, mengembangkan ronggeng gunung sebagai media seni untuk mengislamkan penduduk Suka Lemba.
Terdapat kesamaan antara dua versi sejarah tersebut, yaitu baik Siti Samboja maupun Nyi Ayu merupakan cetusan jiwa seseorang yang gandrung terhadap kekasihnya yang tiada.
Ronggeng gunung pimpinan Pa Sarli sudah 35 tahun berhenti manggung. Sebenarnya mereka masih bisa memainkan seni ronggeng dengan sempurna di daerah asalnya, tetapi tak ada lagi yang membuat mereka bertahan memainkannya. Masyarakat lebih kenal ronggeng kaler atau ronggeng tayub.
Sementara itu, pemerintah setempat seolah-olah menutup mata dengan hal tersebut. Ronggeng gunung pimpinan Bi Raspi pun kelak akan mengalami hal yang sama jika tidak ada yang mau peduli. Semoga kedatangan sejarawan Nina Lubis membuka mata pemerintah setempat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar kesenian warisan leluhur Ciamis ini bisa dipertahankan.
TONI LESMANA Pemerhati Kesenian Tradisi; Bergiat di Studio Titikdua, Ciamis
Sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/02/06/15233315/ronggeng.gunung